Di luar kamar mewah itu, di lantai dasar yang megah namun sunyi, Wati tampak sibuk merapikan beberapa perabotan kecil di ruang tengah. “Pak Roman kok belum keluar juga, ya?” gumam Wati heran. Ia menghentikan kegiatannya sejenak lalu melirik jam dinding. “Udah jam lima subuh padahal...” Tak lama kemudian, Wati melintas seraya membopong vas berisi bunga segar yang hendak dipajang. “Wati... jam segini kok Pak Roman belum keluar, ya? Biasa jam segini kan udah minta dianterin jalan-jalan pagi?” tanya Yuyun menghampiri. “Loh, iya juga, ya... Udah jam lima subuh ini. Coba kamu sekali-kali samperin ke kamarnya,” sahut Yuyun melirik ke arah lorong. “Biasanya kan kalau nggak kamu yang jemput, si Ratu kegelapan itu yang dorong kursi rodanya keluar, terus bawa bapak buat duduk sebentar di ruang TV, sarapan dikit, baru deh jalan pagi sama aku... Tapi ini kok tumben jam segini belum kelihatan hilalnya...” tutur Yuyun penuh tanya. “Yowes, biar aku aja yang ke sana,” ucap Wati. meletakkan
Read more