Wajah Erma seketika memerah, menahan dongkol. "Oh, udah mulai songong ya kamu sekarang... nggak mau bantu kakaknya sendiri?!"Erma langsung membalikkan badan, menghadap suaminya dengan raut wajah histeris yang dibuat-buat. "Jadi begini, Mas, caramu membesarkan anak selama ini? Anakmu itu udah kaya raya loh sekarang, Mas! Tapi kenapa cuma disuruh bantu saudaranya sendiri yang lagi kesusahan aja nggak mau? Apa karena Faris itu bukan kakak kandungnya, makanya dia tega bicara kayak gitu?"Kemudian Erma menutupi wajahnya dengan kedua tangan, pura-pura terisak sedih."Zahwa!" Ibnu menatap putrinya dengan mata melotot. "Abi nggak pernah mengajarimu untuk jadi anak yang pelit dan nggak tahu diri kayak gini! Kakakmu itu sedang berjuang, harusnya kamu yang hidupnya udah mapan ikut bantu dia!"Zahwa mengepalkan jemarinya kuat-kuat di sisi tubuh. "Tapi bukan berarti aku bisa diperas sesuka hati begini, Bi!" potongnya dengan suara bergetar, menahan tangis dan amarah. "Uang Mas Devan itu hasil ke
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-25 อ่านเพิ่มเติม