Share

Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang
Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang
Author: Irhen Dirga

Bab 01

Author: Irhen Dirga
last update publish date: 2026-09-10 08:01:01

Malam itu, bau pengap khas kamar loteng lantai tiga menghujam penciuman Arkael tanpa ampun.

Kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu hanya diterangi lampu bohlam kuning redup yang berdengung konstan, seakan ikut lelah menanggung beban hidup penghuninya.

Di atas meja kayu lapuk, berserakan lembaran uang kusut hasil jerih payahnya melayani para wanita paruh baya kelas atas dari klub malam distrik utara.

Jari-jarinya yang kasar menghitung lembar demi lembar, memastikan nominalnya cukup untuk membayar sewa kamar bulan depan.

Belum sempat ia mengikat uang tersebut dengan karet gelang, ketukan pintu tiga kali beruntun menggema di lorong sempit luar.

Tanpa menunggu jawaban, gagang pintu berkarat itu ditekan dari luar.

Sosok pria paruh baya berjas hitam rapi melangkah masuk, membawa serta aura kemewahan yang sama sekali tidak cocok dengan dinding kamar yang mengelupas.

Jenar Baskara, pengacara senior dari firma hukum papan atas ibu kota, berdiri tegak dengan tatapan setajam elang.

Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap bersetelan gelap berdiri mengawal pintu.

"Wasiat Kakekmu tidak bisa dinegosiasikan, Arkael. Kau pemilik sah dinasti Mozaus sekarang," ucap Jenar dingin.

Suaranya memecah kesunyian ruangan, membuat udara di dalam kamar terasa kian menipis.

Arkael mendengus sinis. Ia melempar lembar uang terakhir ke atas meja, lalu bangkit berdiri dengan postur tubuh tegap meski pakaiannya basah oleh keringat malam.

"Kakek? Aku bahkan tidak pernah tahu siapa kakekku. Jangan datang ke tempat sampah ini untuk membual, Tuan Pengacara. Aku bukan bagian dari keluarga konglomerat busuk yang kau maksud."

Jenar tidak tersinggung. Dengan tenang, ia mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal dari balik jasnya dan melemparkannya ke atas meja kayu.

Suara benturan amplop itu cukup keras di tengah keheningan kamar.

"Buka dan baca sendiri, atau kau selamanya hidup sebagai budak jalanan yang menjual harga diri demi selembar uang merah."

Rasa penasaran bercampur amarah bergemuruh di dada Arkael. Ia merobek amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat akta kelahiran asli, sertifikat kepemilikan saham mayoritas, dan selembar foto lama seorang pria tua bersama anak laki-laki kecil berkalung liontin perak.

Liontin yang sama persis kini melingkar di leher Arkael, warisan satu-satunya dari ibu kandungnya yang tewas dalam kecelakaan misterius dua puluh tahun lalu.

Konflik batin menghantam kesadaran Arkael seketika.

Selama ini ia mengira dirinya hanyalah anak buangan yang harus merangkak dari lumpur kotor untuk bertahan hidup di kota metropolitan yang kejam.

Namun, selembar kertas di tangannya mengubah segalanya.

Darah bangsawan yang mengalir di nadinya ternyata membawa kutukan dan beban sejarah keluarga yang sarat intrik pembunuhan, pengkhianatan, serta perebutan kekuasaan bernilai triliunan rupiah.

Dunia elite yang selama ini ia benci dan cemooh dari jauh, kini justru memanggil namanya secara mutlak.

"Apa alasan kalian baru mencariku sekarang?" tanya Arkael tajam, menatap lurus mata sang pengacara tanpa gentar.

"Karena pewaris sebelumnya harus melalui tempaan dunia malam agar ia tahan banting menghadapi serigala berjas di dewan direksi Mozaus Corp," jawab Jenar tanpa ragu. "Pamanmu, Dhandra Mozaus, sedang menunggu di kursi singgasana dan berniat menghapus sisa garis keturunan sah. Jika kau menolak, besok pagi nyawamu melayang di gang ini."

Arkael terdiam.

Napasnya memburu. Ia melirik koper kulit hitam berisi kunci mobil mewah dan identitas baru yang diletakkan Jenar di lantai dekat ranjang.

Pilihannya hanya dua, tetap tinggal di gubuk kumuh ini sebagai sampah masyarakat menunggu ajal, atau melangkah maju mengambil alih singgasana darah dagingnya untuk membalas kematian orang tuanya.

Dengan gerakan lambat namun pasti, Arkael menyambar koper hitam tersebut, ia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin retak, lalu mengangguk singkat pada sang pengacara.

"Mari kita lihat seberapa busuk serigala-serigala itu."

Langkah kaki mereka bergemuruh menuruni tangga kayu menuju halaman depan gedung apartemen kumuh.

Di tepi jalan raya yang basah oleh sisa hujan, sebuah sedan hitam berlogo lambang singa emas telah menanti dengan mesin menyala halus.

Jenar membukakan pintu belakang, mempersilakan Arkael masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC dingin dan berbalut jok kulit mewah.

Mobil mewah itu perlahan meninggalkan kawasan kumuh, meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi.

Namun, Arkael tidak tahu bahwa di balik bayangan sudut gang sempit seberang jalan, sepasang mata merah mengawasi setiap gerakannya dari balik kegelapan.

Seseorang dengan nafas memburu menggenggam erat gagang pisau lipat kecil, lalu menyayat cepat foto wajah Arkael yang tertinggal di atas lembar brosur pameran mobil di dashboard mobil yang pintunya sempat terbuka tadi.

Darah dingin telah bersiap menyambut kembalinya sang pewaris ke sarang singa.

Suara mesin mobil mewah berlanjut memecah keheningan malam ibu kota.

Di dalam mobil yang kedap suara, aroma kulit jok baru bercampur dengan wangi parfum maskulin yang elegan menciptakan suasana asing bagi paru-paru Arkael.

Arkael terbiasa dengan bau debu jalanan, asap rokok murahan, dan aroma lembap lorong loteng sempit.

Perpindahan drastis ini terasa tidak nyata, bagaikan mimpi buruk yang mendadak berubah menjadi teater kemewahan.

Matanya menatap lurus ke luar jendela kaca anti peluru, menyaksikan gedung-gedung pencakar langit berlapis lampu neon yang melintas cepat seperti bayangan fana.

Jenar Baskara duduk di kursi depan sebelah pengemudi, sibuk membolak-balik dokumen digital di layar tablet bercahaya biru redup.

Sesekali, pria paruh baya itu melirik melalui spion tengah, memantau ekspresi wajah pewaris muda dinasti Mozaus yang baru saja ditarik dari kubangan lumpur.

Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama hampir setengah jam perjalanan.

Keheningan itu justru memberikan ruang bagi isi kepala Arkael untuk bergemuruh hebat.

Berbagai pertanyaan, keraguan, dan sisa-sisa amarah masa lalu berputar tanpa henti, menuntut jawaban atas takdir yang dipaksakan ke pundaknya.

Jika apa yang dikatakan Jenar benar, kematian kedua orang tuanya dua dekade silam bukanlah kecelakaan lalu lintas biasa seperti yang selama ini tertera di arsip kepolisian korup.

Ada tangan-tangan kotor di balik layar yang sengaja menyingkirkan ayah dan ibunya agar tampuk kekuasaan Mozaus Corp jatuh ke tangan Paman Dhandra.

Paman yang tidak pernah ia kenal wajahnya, namun namanya kini menjadi sinonim dengan bahaya mematikan.

Arkael mengepalkan tangan kanannya hingga kuku jarinya memutih.

Bekas luka tikaman kecil di telapak tangan akibat perkelahian jalanan tiga tahun lalu berdenyut ngilu, seolah mengingatkannya bahwa dunia asalnya bukanlah tempat yang ramah bagi orang-orang lemah.

"Kita akan langsung menuju kediaman utama di bukit utara," suara Jenar memecah keheningan kabin secara tiba-tiba, memecah lamunan panjang sang pemuda. "Di sana, seluruh dewan komisaris dan pelayan setia sudah menunggu kedatanganmu. Ingat, Tuan Muda, di dalam tembok istana itu, setiap senyuman bisa berarti racun, dan setiap jabatan tangan bisa menjadi jebakan mematikan."

Arkael menoleh perlahan, menatap punggung tegap sang pengacara dengan senyum tipis sinis yang terukir di sudut bibirnya. "Aku tidak peduli dengan dewan komisaris atau ancaman paman tua itu. Aku hanya ingin tahu satu hal, Jenar. Apakah darah mereka yang membunuh orang tuaku akan tumpah di lantai marmer istana itu?"

Jenar tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa membuang muka. "Hukum rimba yang berlaku di jalanan tempatmu tumbuh, tidak jauh berbeda dengan hukum rimba di lantai bursa efek Mozaus. Siapa yang paling kejam dan paling cerdas, dialah yang memegang kendali mutlak."

Mobil sedan hitam itu mulai memasuki kawasan pinggiran kota yang sunyi, mendaki jalanan beraspal mulus di tengah rimbunnya pohon pinus tinggi yang menutupi lereng bukit.

Di ujung jalan, gerbang besi besar setinggi lima meter dengan ukiran lambang singa emas terbuka otomatis begitu sensor keamanan mengenali plat nomor kendaraan mereka.

Di balik gerbang tersebut, sebuah istana bergaya arsitektur klasik Eropa berdiri megah di bawah naungan cahaya bulan purnama.

Pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi, dikelilingi taman luas yang tertata sangat rapi dan dijaga oleh puluhan pengawal bersetelan hitam lengkap dengan senapan laras pendek terselip di balik jas mereka.

Kendaraan berhenti tepat di depan tangga utama pintu masuk istana.

Salah satu pengawal bergegas membuka pintu mobil, membungkuk hormat sembari menyambut kedatangan Arkael.

Saat kaki Arkael menapakkan sepatu boots usangnya ke atas lantai marmer putih yang bersih berkilau, angin malam berhembus kencang, menerbangkan ujung jaket kulit hitam yang ia kenakan.

Arkael mendongak menatap megahnya bangunan yang kini resmi menjadi warisan darah dagingnya, menyadari bahwa jalan untuk kembali ke masa lalu tidak akan pernah bisa berbalik arah lagi.

Di balik jendela kaca lantai dua istana, sepasang tirai beludru merah bergerak perlahan, memperlihatkan siluet mata dingin seseorang yang mengintip tajam ke arah halaman bawah, mengawasi setiap gerak-gerik sang pewaris yang baru saja memasuki kandang singa penuh darah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 08

    "Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 07

    Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 06

    "Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 05

    Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 04

    "Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D

  • Kembalinya Sang Pewaris Yang Hilang   Bab 03

    "Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status