WOLVIRE (Bahasa Indonesia)

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)

By:  Varga Nurlela Blafire  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
52Chapters
7.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Barbara selalu mendapatkan apa yang diinginkannya kecuali satu hal, kebebasan. Dia tidak boleh meninggalkan rumah sendirian tanpa ditemani oleh setidaknya salah satu orang tuanya. Seperti anak kecil. Di sisi lain, semuanya berubah setelah ia bertemu Saga yang mengaku sebagai vampir. Barbara adalah wolvire, persilangan antara perubah-serigala dan vampir. Namun, bukan itu yang membuatnya buruk. Dia memiliki darah suci yang diincar oleh beberapa orang yang berorientasi pada kejahatan. Salah satunya adalah Yang Terkutuk. Akankah Barbara berhasil melarikan diri atau bahkan bersembunyi? Akankah dia berhasil menjaga dirinya agar tidak dikendalikan oleh iblis untuk memanggil kegelapan? Suatu hari di sebuah kota di Indonesia, kekacauan melanda. Kegelapan menggantung di langit dan tampak berdenyar di udara. Apa yang salah? Apakah itu terkait dengan Barbara? Hadiah adalah hadiah. Apa yang membuatnya menjadi kutukan adalah keinginan manusia yang nyata akan kekuatan nan gelap. Berjuanglah, atau semuanya akan hancur.

View More
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
52 Chapters
Prolog
Darah mengalir turun dari leher lelaki yang duduk terkulai di ruangan itu. Membasahi tuksedo hitam yang ia pakai dan lantai di bawahnya dengan genangan pekat. Rambut kelabunya bernoda merah dan tampak lengket, setetes darah mengalir ke dahinya. Bahu dan dada orang itu bergeming. Tak ada tanda-tanda napasnya masih tersisa.   Beberapa langkah dari mayat itu, seorang wanita telentang dengan posisi janggal dan leher penuh darah. Wajahnya yang telah pucat menyiratkan kesakitan. Bibirnya terbuka, seakan wanita bergaun putih itu sempat berteriak sebelum urat lehernya terputus. Di sampingnya, berlutut seorang pria yang tersengguk-sengguk dengan perasaan terluka. Pria bernama Rudi itu menoleh secepat embusan angin, iris matanya yang gelap menatap seorang pria lain yang berdiri tak jauh darinya dengan benci.   “Opo sing mok karepke?” (Apa yang kau inginkan?) Rudi menggeram rendah. Perlahan dan agak gemetar, ia berdiri.   Yang dimu
Read more
Dokumen
Dokumen-dokumen Penting Terkait Mitos Ogeoleh Badan Riset & Data Vampir Koba (BRDV Koba) 1. Laporan dalam surat kabar “Jurnal Modern” oleh Nero Saputra  Vampir, makhluk yang disebut-sebut sebagai gambaran manusia abadi nan menawan serta bertaring versi Indonesia, mulai mengemuka pada tahun 2018 lampau. Oleh pecinta klenik drakula, dikatakan bahwa tampilan fisik dan kebiasaan vampir sama dengan vampir Barat, hanya saja tahan sinar matahari dan lebih kuat. Tetapi, apakah vampir Indonesia itu sebenarnya?  Vampir Indonesia yang sebenarnya tidaklah sama dengan vampir-vampir Barat kebanyakan. Pengalaman pribadi saya sebagai hasil dari menyaksikan secara langsung salah satu dari merekalah yang membuat saya menulis ini. Vampir yang berjenis kelamin laki-laki itu tidak bersedia disebutkan namanya di sini, sebab (seperti yang vampir tsb. katakan) ia takut akan dieksekusi oleh
Read more
Awal
IBUKU mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku—tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka … eh, tapi ini kisah Bella pada novel Twilight, bukan kisahku.Hehe, maaf pada Stephanie Meyers karena sudah dengan kurang ajar menyalin paragraf utama novelnya. Tidak bermaksud plagiat, sungguh!Tentu saja Ibu mengantarku ke bandara … dengan ayah kandungku, bukan ayah tiri. Bandaranya tidak terletak di kota Phoenix, tapi kota Jakarta, Indonesia.Mengenai benda yang kubawa-bawa … bukan cuma sepotong parka, tapi sekoper pakaian. Lalu, sekoper lagi yang berisi sisa pakaian, buku-buku, dan benda-benda lain yang kupikir penting.Kemudian, ponsel dan seutas earphone.Apa yang diharapkan dari seorang gadis berumur delapan belas tahun sepertiku
Read more
Tahanan
Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya malam itu. Kudongakkan kepala dan menatap langit yang mendung. Ayunan dengan kursi bersandar yang kududuki tampak agak bergoyang saat aku membenarkan posisi duduk.Aku tengah berada di Taman Kota Koba … nama yang terpampang, sih, begitu. Tapi, kata Kakek, orang-orang lebih senang menyebutnya alun-alun. Apa pun alasannya, aku sedang tak ingin peduli dengan itu.Lantunan lagu “Jangan Menyerah” yang dibawakan D'Masiv berdentum merdu di telingaku. Namun, hanya itu saja. Aku hanya bisa mendengarkan musik itu tanpa bisa menyaksikannya dengan benar.“Ape-ape ikak ne!”Aku menoleh. Beberapa meter dariku, Kakek sedang bersenda gurau menggunakan bahasa Bangka yang tak kupahami dengan beberapa temannya. Salah satunya adalah seseorang yang sempat berteriak tak keruan di depan rumah tadi siang.Sungguh menyebalkan. Kukira benar-benar ada preman atau apa. Ternyata hanya teman Kakek yan
Read more
Yang Bertaring
Saat aku berkata "terserah kalian saja", Ayah dan Ibu akan benar-benar melakukan apa pun yang mereka ingin aku lakukan. Mereka tak pernah mengerti bahwa di balik kata terserah yang kulontarkan, tersembunyi makna "aku ingin didengarkan".Namun, aku tak menyangka Kakek juga akan berlaku sama seperti Ayah dan Ibu.Seringnya aku curhat kepada Kakek lewat telepon sebelum datang ke sini, dan betapa beliau kedengaran sebal serta selalu menghiburku, aku seperti punya pemikiran bahwa Kakek tak akan tega membatasi ruang gerakku. Nyatanya, aku salah.Keesokan hari setelah malam itu, Kakek memperingatkan aku untuk tidak keluar rumah sedikit pun. Ia berangkat jam tujuh pagi untuk pergi ke sekolah sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di salah satu SMP.Sebelum berangkat, ia dengan sangat jelas menyatakan, “Aku akan mengurus semua kebutuhan homeschooling kamu nanti. Diam saja di rumah. Kalau perlu apa-apa, beli saja lewat online. Atau kau bisa titip padaku.&rdquo
Read more
Cerita
Cafe di kota kecil ini sangat berbeda dengan cafe di Jakarta. Meski begitu, tetap saja estetika tampilannya tak mengecewakan. Terutama Cafe Ananda yang kini aku—kami—singgahi.Aku menyesap es kapucino bertabur granula kecoklatan di atasnya dengan perasaan senang. Seorang pemuda merangkap vampir paruh waktu di depanku tengah menatap sekumpulan gadis-gadis bercelana pendek di seberang tempat kami duduk. Gadis-gadis yang sebagian besar mengenakan atasan minim itu cekikikan saat sadar Saga mengawasi mereka.“Yang benar saja.” Saga mendengus ke atas minuman mirip es selasih warna hijau di bawah hidungnya. “Cewek-cewek itu kira aku sedang mengagumi mereka atau bagaimana. Pakaian mereka kekurangan bahan.”Aku tertawa. “Kau ini kolot sekali, Saga. Berapa sih umurmu?”Saga cemberut. “Aku baru berumur satu tahun!”Hampir saja aku menyemburkan cairan espreso susu ke mukanya.“Jangan bila
Read more
Kebenaran
Selama delapan belas tahun hidup, tak pernah aku merasa seberkeringat ini saat berada di dalam mobil dengan AC menyala. Telapak tanganku sangat lembab dan licin hingga meremas-remas tangan terasa begitu mudah.Aku bernapas dengan berat, seakan oksigen pelan-pelan tersedot keluar dari mobil. Kecemasan dan kekhawatiranku bertambah satu persen setiap detiknya. Aku bahkan tak berani menoleh ke kursi pengemudi di sampingku.Suasana di kendaraan pribadi ini tak lebih baik. Rasanya seolah ada bom rahasia yang siap diledakkan kapan saja. Tubuhku yang terasa dingin di dalam dan panas di luar sama sekali tak membantu.Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk masuk angin.Untuk kesejuta kalinya dalam beberapa menit ini, hatiku meneriakkan segala jenis makian untuk Saga si vampir bodoh sepanjang masa, yang kini punya situasi hampir sama sepertiku.Setelah sisa motor Saga dinaikkan ke mobil patroli dan kami digiring masuk ke kendaraan tersebut, kami dibawa ke k
Read more
Penyerangan
Pikiranku campur aduk. Seperti memasukkan segala jenis minuman ke dalam satu teko air putih; rasanya sungguh tak keruan.Aku memikirkan bagaimana perasaan orang tua kandungku sesaat sebelum mereka menghadapi ajal. Aku memikirkan bagaimanakah hidupku seandainya mereka masih ada.Akankah semua tetap sama? Akankah aku tetap dibatasi? Akankah semua bisa menjadi mudah?Apa yang salah dari menjadi hidup?Air mataku menitik, saat kerinduan ganjil akan keberadaan orang tua kandungku yang entah siapa memenuhi benak. Aku merasa sakit hati kepada sang pembunuh yang telah tega merenggut orang yang seharusnya menjadi panutan dalam hidupku.Dadaku terasa sesak. Pandanganku terus-terusan kabur saking banyaknya air mata yang keluar. Aku menangis dalam diam, mencoba sangat keras agar tak terisak-isak seperti hilang akal.Namun, pada kenyataannya, aku hampir hilang akal.Ibu—ibu angkatku—berkali-kali tampak ingin menenangkanku, tapi bahu in
Read more
Bersembunyi
Seekor babi hutan tampak menyeruduki semak belukar yang meranggas di bawah pepohonan liar. Dari atas pohon sini, aku bisa melihat moncong hewan dengan nama lain celeng itu dengan jelas saat ia mengendus-endus serampangan.Aku mendesah sambil memeluk dahan di sampingku. Enaknya jadi celeng. Mereka tak perlu memusingkan para vampir yang akan mengejarnya sampai ujung neraka sekali pun.Aku terdiam, lalu menghela napas lelah.“Maafkan aku, Leng,” aku bergumam sendiri. “Aku terlalu iri padamu. Kau pasti pernah dikejar-kejar vampir juga gara-gara mereka butuh darahmu … atau tidak?”Aku menatap langit cerah dari balik kanopi pohon. Babi di bawahku tertatih-tatih pergi saat tak menemukan apa-apa di balik daun-daun kering. Langkah empat kakinya menimbulkan bunyi kersak; meningkahi ocehan monyet dan kicau burung di sekitarku.Beberapa hari ini semangat hidupku jadi agak berkurang. Setelah meninggalkan rumah Kakek, aku dan Ibu t
Read more
Wolf-shifter
Pikiran pertama yang muncul di benakku adalah: lari! Namun, pikiran itu tercipta setelah kira-kira dua puluh detik lebih lama dari yang seharusnya.Jadi, sepersekian detik sebelum aku memutuskan untuk lari, pemuda itu sudah menghempaskan punggungku ke salah satu batang pohon yang menjulang. Aku berdengap ngeri saat pemuda itu mengunci tubuhku di antara lengannya, menghalangiku untuk kabur. Kucoba untuk mengabaikan aroma tubuhnya yang mirip lemon segar.Tiba-tiba, ia mengendus-endus leherku seperti yang Saga pernah lakukan waktu itu. Pemuda di depanku mengerutkan kening. Ia membiarkan kedua taringnya bersembunyi lagi. Matanya tetap hitam; tak berubah sama sekali. Berbeda dengan Saga.Kedua tangan pemuda itu jatuh ke samping tubuhnya; tak lagi mengurungku seperti semula. Ia mundur selangkah, bersedekap, lalu mengamatiku dari atas ke bawah.“Kukira kau vampir yang mau macam-macam di wilayah kami.”Aku mengerjap. Suaranya dalam, mengingatka
Read more
DMCA.com Protection Status