SI CULUN DAN PANGERAN KAMPUS

SI CULUN DAN PANGERAN KAMPUS

Oleh:  alindaana97  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.7
Belum ada penilaian
95Bab
142.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Mentari namanya. Wajah dan badannya biasa aja. Bahkan dia tidak punya seorang teman pun di kampus karena penampilan culunnya. Hidupnya? Biasa saja. Tetapi tanpa dia ketahui alasannya, cowok paling tampan dan ditakuti di kampus jatuh hati kepada Mentari. Cowok yang terkenal dengan sebutan Pangeran Kampus itu ibarat badai yang mengguncang hidup tenang Mentari. Mendadak hidupnya jadi penuh masalah. Meski begitu...Mentari tidak mampu menolak cowok itu. Bukan karena pesonanya tetapi karena mereka memiliki satu kesamaan. Mereka sama-sama kesepian. Tapi...cukupkan itu menjadi alasan kebersamaan mereka?

Lihat lebih banyak
SI CULUN DAN PANGERAN KAMPUS Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
95 Bab
Satu
Menghirup udara pagi yang sangat segar, Mentari sedang duduk di kursi yang ada di taman kampus sambil menunggu kelasnya di mulai.Dia tersenyum saat melihat sekelilingnya, sudah banyak mahasiswa yang sudah datang juga. Mereka asik bersenda gurau dengan teman mereka.Sementara dia hanya sendiri tidak punya satu orang pun di sisinya, kalau kalian tanya apakah dia kesepian?Jawabanya tidak karena dia memang sangat suka menyendiri, sunyi itu membuat nya merasa tenang, menikmati hidup tanpa harus terlibat masalah dengan orang lain.Tapi bukan berarti dia tidak punya teman sama sakali, dia punya teman dari kecil namanya Mila. Tapi mereka beda kampus jadi jarang bertemu.Mentari beranjak dari duduk nya karena sebentar lagi kelasnya akan di mulai.Buk..Seseorang melempar sampah tepat di hadapan Mentari."Eh lo buangin tu sampah" ucap orang itu seenaknya.Mentari menunduk dan mengambil sampah yang ada di dekat kakinya. Lalu dia
Baca selengkapnya
Dua
Kepala Mentari terus di penuhi kejadian di kantin tadi. Dia terus berpikir apa salahnya, Kenapa Benji bersikap begitu kepadanya. Setelah selesai makan Benji meninggal kan nya begitu saja tanpa sepatah kata pun."Mentari apa kamu mendengarkan saya?" tegur dosen yang sedang mengajar di kelasnya.Mentari terlonjat kaget"Ma.. maaf pak" ucapnya. Semua orang menatap ke arahnya sekarang."Lebih baik kamu keluar" "Ta.. tapi pak" "Keluar saya bilang""Iya pak.. maaf saya permisi" ujarnya setelah selesai membereskan barang-barang nya.Mentari merutuki kebodohanya sendiri, kenapa bisa-bisanya dia melamun di kelas.Dia berjalan keluar kampus, untuk menunggu angkot. Lebih baik dia  pulang saja dulu.Mentari masuk  kedalam  rumahnya yang sepi tak ada satu orang pun di sana. Bukan cuma di kampus tapi di rumah pun dia selalu sendirian.Ibunya selalu sibuk bekerja dan jarang pulang, sedang kan ayah
Baca selengkapnya
Tiga
Mantari meletakan nasi goreng di hadapan Benji. Yang sudah duduk di meja makan untuk menunggunya.Benji langsung menyatap makanan itu, mereka pun sibuk dengan makanan masing-masing."Kakak ngapain kesini?" Tanya Mentari lagi setelah menyelesaikan makan nya."Ngapelin cewek gue" ucap Benji santai dengan menaruh gelas yang dia pegang.Mentari mengerutkan keningnya."Siapa?" Tanyanya bingung."Nenek lo" jawab Benji kesal."Tapi nenek aku udah meninggal" jawab Mentari polos.TakBenji memukul kepala Mentari dengan sendok."Aw.." ringis Mentari dengan memegang dahinya."Gue pulang " ujar Benji dan berlalu pergi.Mentari menyipit kan matanya melihat Benji pergi begitu saja."Dasar aneh" gumanya.Tak lama terdengar suara mobil yang meninggal kan halaman rumahnya."Dari mana dia tau rumah aku ya?"Menolognya."Terus ngapain ke sini aneh" sambungnya lagi.Mentari mengelen
Baca selengkapnya
Empat
Mentari sudah berada di kampusnya pagi ini, dia berjalan menuju kelasnya.Namun langkahnya terhenti saat melihat keramaian di tengah lapangan."Ada apa ya?" Ucapnya penasaran.Karena penasaran dia pun berjalan mendekat ke sana, dia menyelinap masuk ke tengah ke rumunan dengan mudah berkat tubuhnya yang kecil.Mentari melebar kan matanya melihat Benji sedang memukuli seorang pria dengan brutal.Mentari memejam kan matanya saat satu pukulan keras mengenai pria itu.Kalau di biar kan pria itu bisa mati di tangan Benji, dan orang-orang di sini hanya melihat saja tidak ada yang mau menolong."BERHENTI BENJI" teriak salah satu dosen.Mentari bernapas lega untung ada pak Prass, karena di kampus ini hanya dia yang berani memarahi Benji.Dia menarik kerah belakang baju Benji, sehingga membuat pria itu menjauh dari orang yang di pukulinya."KAMU MAU JADI PEMBUNUH HAH?" Teriak Pak Prass.Benji  tetap d
Baca selengkapnya
Lima
Mereka sedang berada di kamar Mentari sekarang. Selesai makan malam tadi mereka memutus kan untuk menonton drama korea secara meraton malam ini. Karena besok libur kuliah jadi mereka bisa bangun siang." wah... lee min ho gateng banget, gue mencium bau-bau calon suami gue" ucap Mila heboh.Mentari menggelengkan kepalanya."Mimpi" ucapnya dengan melempar kulit kacang ke Mila."Ye.. namanya juga jodoh siapa yang tau" "Iya in aja lah.." ucap Mentari."Hhehhe gitu dong. sebagai teman, lo itu harus nya mendo'a kan" ujar Mila dengan menampilkan deretan giginya."Ya ya ya ya" ujar Mentari malas.Akhirnya mereka fokus menonton setelah perdebatan kecil tadi. Tapi sesekali juga mengomentari adegan yang ada di drama tersebut.Baru menonton separuh episode, mereka di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang membuka pintu kamar Mentari.Mentari melebarkan matanya terkejut. Sementara Mila sama terkejutnya dengan Mentari.Baca selengkapnya
Enam
"Tuh cowok ganteng-ganteng serem banget njir..." ujar Mila setelah mendengar cerita dari Mentari."Ya udah pokoknya gue bakal tidur disini sampai nyokap lo pulang" putus Mila.Mentari menganggukan kepalanya setuju. Kalau Mila disini Benji pasti tidak akan kesini."Tapi nanti lo juga harus cerita sama nyokap lo" "Mmm nggak deh kayak nya Mil, aku nggak mau masalah nya tambah panjang nanti." Ujar Mentari, Dia juga nggak mau membuat ibunya kawatir." gimana sih lo harus cerita biar ibu lo tau.." ujar Mila tak terima."Percuma Benji itu orangnya nekat, lagian aku juga nggak mau buat ibu kepikiran" ujarnya, bahkan selama ini ibunya tidak tau kalau dia sering di bully."Lagian juga Benji nggak pernah nyelakaain aku paling bentak-bentak doang" lanjutnya.Mila memicingkan matanya menatap Mentari curiga."Apa?" Tanya Mentari."Jangan bilang lo suka sama dia iya kan, Makanya lo belain dia" Mila menunjuk-nunjuk wajah Me
Baca selengkapnya
Tujuh
Mentari terjaga dari tidurnya saat merasakan tangan seseorang mengelus wajahnya.Saat membuka mata dia melihat wajah Benji tepat berada di atasnya."Astaga" kagetnya dengan mendorong dada Benji agar menjauh.Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk. Dia lupa kalau semalam Benji tidur di sini.Dan bodohnya dia malah ketiduran jadi lupa buat pindah tidur di sopa." ck biasa aja, kayak liat hantu" ucap Benji sinis.Pria itu segera memakai kaosnya dan mengambil jaket nya.Lah sejak kapan Benji tidak memakai bajunya, Mentari meihat kebawah ah untung ternyata dia masih memakai bajunya."Gue nggak sebejat itu kali" ujar Benji yang mengetahui isi pikiran Mentari.Mentari melihat keluar jendela hari masih gelap. Lalu dia melihat jam di meja, pantes aja gelap masih jam tiga pagi bantinya."Gue pulang" ujar Benji dengan melangkah ke jendela."Kenapa nggak dari semalam" batin Mentari.Dia mengikuti benji, pen
Baca selengkapnya
Delapan
Mentari terus tersenyum senang karena sudah seminggu Benji tidak lagi kerumahnya.Mana katanya punya seribu tangga, baru di buang satu aja udah nggak datang lagi.Tapi bagus itu artinya rencananya berhasil, bukan cuma tak kerumahnya di kampus pun dia tidak pernah melihat Benji. Ah udah lah itu juga bukan urusan dia."Hello sepada, Mila cantik datang ni..." triak Mila dari luar.Mentari menggelengkan kepalanya saat gadis itu masuk dengan cengiran khasnya.tuhan itu maha adil orang cantik  pasti ada kurangnya."Tar lo lihat nih apa yang gue bawa"  ujarnya dengan berjalan menuju ranjang.Mila membuka kantong belanjaan yang dia bawa."Taraa..." ucapnya heboh dengan menujukan gaun cantik berwarna biru muda.Gaun selutut dengan rok yang mengembang, terus bagian bahu yang sedikit terbuka."Bagus nggak? "Tanya Mila.Mentari menganggukan kepalanya setuju."Nah tu kan, udah gue duga lo pasti suka.."&nb
Baca selengkapnya
Sembilan
Mentari masuk kedalam salah satu  bilik toilet dia menumpah kan tangisnya di sana.Dia memukul-mukul dadanya kenapa masih sangat sakit saat melihat pria itu, kenapa juga dia menangis.Semua kenangan pahit yang dulu pernah dia rasakan kembali terulang di dalam pikiranya.Seharusnya dia memang tidak datang kesini tadi, karena pasti pria itu akan datang juga.Tangis Mentari semakin pecah mungkin saja orang di luar sana bisa mendengar suara tangsinya."Nggak.., nggak" ucapnya dengan menggelengkan kepalanya."Aku nggak boleh kayak gini" ujarnya dengan menghapus air mata yang ada di pipinya.Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskanya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri."Pria itu sudah tidak penting lagi, cukup pura-pura tidak tau itu saja" ujarnya masih sesegukan.Dia menghapus air matanya yang masih saja keluar.
Baca selengkapnya
Sepuluh
Mentari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dia menatap langit-langit kamarnya.Kenapa mereka harus bertemu lagi. Dia tersenyum kecut, saat mengingat kata-kata pria itu. maaf katanya,  bukanya sudah sangat terlambat untuk  di ucapkan.Dia memejam kan matanya rasanya sangat lelah, tidak mau mengingatnya lagi.***Mentari baru saja menyelesaikan kuliahnya, hari ini badanya sangat lesu bahkan pagi tadi dia malas untuk pergi kuliah.Sudah berkali-kali dia menghembukan napas lelah."Ikut gue" ucap seseorang dan langsung menarik tangan Mentari."Lah mau kemana kak" ujar Mentari kaget. Saat Benji tiba-tiba menarik tanganya.Mentari berusaha melepaskan  tanganya."Ih lepasin.." ucapnya,Namun percuma tenaga Benji jauh lebih kuat darinya. Yang ada tanganya jadi tambah sakit.Benji tak peduli dia terus menarik tangan
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status