Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya
Setelah cinta pertama Alain meninggal, dia membenciku selama lima tahun penuh.
Aku berusaha menyenangkannya di segala hal, tetapi dia berkata, "Kalau kamu benar-benar ingin membuatku sedikit lebih bahagia, pergilah mati dan temani Janet."
Hatiku terasa perih. Awalnya kupikir dia akan terus membenciku seperti itu selamanya. Namun tak kusangka, saat kami diserang dalam sebuah percobaan pembunuhan, Alain tanpa ragu melindungiku dan menahan peluru untukku.
Sebelum meninggal, dia terbaring di pelukanku dan menggunakan sisa tenaganya untuk berkata, "Annisa, kalau ada kehidupan berikutnya, aku berharap nggak akan pernah ketemu kamu lagi."
Di pemakamannya, ayah Alain dipenuhi penyesalan.
"Alain, Ayah salah. Dulu Ayah nggak seharusnya maksa kamu menikahi Annisa. Kalau waktu itu Ayah mendengarkanmu dan membiarkanmu menikahi Janet, apakah semuanya nggak akan berakhir begini?"
Ibu Alain menatapku sambil berlinang air mata. "Semua ini salahmu! Setiap kali Alain berada dalam bahaya, itu selalu karena kamu. Selain membawa bencana untuknya, apa lagi yang bisa kamu berikan?"
Aku menunduk dan tetap diam.
Bukan hanya mereka yang menyesal Alain menikah denganku, bahkan aku sendiri juga menyesal telah menikah dengannya.
Pada malam bulan purnama, aku melompat dari gereja dan kembali ke lima tahun yang lalu.
Kali ini, aku tidak akan lagi mencintai Alain.