Konglomerat Desa Tak Terkalahkan
Dia mengambil sebutir anggur dari keranjang, lalu menyodorkannya ke hadapan Malika.
Butir anggur itu tergeletak di telapak tangannya, berwarna ungu kehitaman, memancarkan kilau lembut di bawah cahaya lampu, seperti permata yang dipoles dengan teliti.
"Bu Malika, sekarang kalau aku katakan padamu anggur ini bisa menyembuhkan sakit perut, apa kamu masih menganggapnya mahal?"
Begitu kata-katanya selesai, wajah Malika langsung menunjukkan rasa terkejut.