Terjerat Pesona Mama Temanku
“Kamu sudah menjadikan aku kambing hitam. Seolah-olah semua ini salahku. Padahal kamu juga sama saja! Kamu main api. Bukan sama orang asing, tapi sama sahabat anak kita sendiri!”
Sarah berdiri tegak, napasnya terengah. Matanya basah, tapi bukan karena sedih. Karena muak. Karena marah. “Setidaknya aku main api dengan laki-laki, Dam! Bukannya main api dengan sesama wanita kayak kamu. Dan kamu masih punya muka buat marah ke aku?”
Wajah Damar berubah. Kaget. Marah. Tapi juga malu. “Jaga ucapanmu, Sarah.”