Nasi Bungkus untuk Laila
Alin Fiaznanasi bungkus sederhanaarti luluh lantaklirik buaya buntungnasi berkat tahlilan
Wajah antum mengingatkan saya pada seseorang, di Tangerang," ucap Abizar setelah bersalaman. Arsen hanya mengangguk, hatinya berdebar luar biasa, karena takut ketahuan, bukan hanya itu, hatinya juga sakit, melihat kebersamaan mereka yang romantis, ada rasa cemburu yang membakar jiwanya.
Untungnya Abizar tidak mengenali Arsen, ia menyangka jika Tara hanya mirip saja dengannya. Arsen bisa bernapas lega.
"Mas Tara, hayoo ... ngelamunin ukhti yang tadi, ya? Emang cantik banget, sih!" kata Rudi menggoda Arsen, ucapan pemuda berusia delapan belas tahun itu, membuyarkan lamunan Arsen seketika. Tapi bayangan Laila barusan tak kunjung jua pergi dari kepalanya, membuatnya teras pusing dan frustasi.
“H
Hot Chapters