Arsitek Kecantikan Para Dewi
“Sekarang, cobalah meresponsku dengan napasmu. Aku menarik napas, kamu hembus napas. Napasku panjang, napasmu pendek. Lakukan bergantian seperti tarian tanpa suara... ya, seperti itu...”
Aku terus membimbingnya dengan suara yang menghipnotis.
Napas kami berbaur begitu dekat, saling melilit, maju mundur seolah-olah sedang melakukan simulasi foreplay.
Matanya perlahan kehilangan fokus, tertutup kabut tipis, bibirnya sedikit ternganga, menyingkap sedikit gigi putihnya.
Dia benar-benar larut dalam pusaran sensual yang kubangun.
Hot Chapters