Luka yang Terulang 99 Kali
Ayahku tiba-tiba berdiri, menggebrak meja dan berteriak kepadaku, "Mukamu judes terus sejak masuk. Merajuk ke siapa sih? Ibu sudah minta maaf, bahkan dia ambilkan minuman kesukaanmu, tapi kamu malah begitu. Kami sudah terlalu memanjakanmu!"
Dadaku terasa seperti dicengkeram erat, sakitnya sampai membuatku sulit bernapas.
Air mata mengaburkan pandanganku, tapi aku masih mengambil jus mangga dari tangan ibuku dan meminumnya sekaligus.
Aku pun meletakkan gelas kosong itu dengan perlahan, menghapus air mataku, dan menatap ayahku dengan tenang.
"Yang suka mangga itu Wulan. Aku alergi. Tapi nggak apa-apa, sudah kuminum. Aku boleh ke kamar sekarang?"
Hot Chapters