Ifat
Siksaan yang kudapat dari hawa dingin perlahan mulai berkurang.
Aku tertidur lagi, masih dengan posisi miring yang sama, di tempat yang sama, juga masih dengan bantal yang sama!
Pukul sembilan, telingaku mendengar sebuah suara, halus, dan tertahan. Masih dalam keadaan terpejam aku berusaha mengenali suara yang berikutnya kupahami sebagai isakan.
Aku menggerakkan kepala bersamaan dengan membuka kedua mata. Namun karena memar dan bengkak, yang terbuka hanya mata kananku. Itu pun hanya selebar lidi.
Hot Chapters