Bertemu dengan Lembayung Azura Arunika di masa muda membuat Ryu menjatuhkan hatinya. Azura memiliki magnet kuat yang mampu menarik jatuh kesombongan Ryu hingga ikrar setia itu terjaga begitu lama. Sepuluh tahun setelahnya, semua berubah dan berbeda. Azura bahkan tak lagi mengingat Ryu sebagai bagian dari kenangan masa mudanya. Sebuah peristiwa nahas dan penuh trauma membuat Azura kehilangan memorinya, termasuk lupa pada Ryu yang tetap setia. Demi menjaga Azura dari trauma, Ryu memilih menahan dirinya, berpura asing terhadap Azura sang personal assistant yang kini melengkapi posisinya sebagai General Manager di kebun kelapa sawit warisan keluarga. Ryu menunggu dengan segenap rindu, menanti Azura mengingat masa-masa itu. Lalu, menikah menjadi jalan yang Ryu pilih untuk membuat rasanya terbaca oleh Azura, sang cinta pertama. For more visual add In*ag*r*m ikarus_v
Lihat lebih banyakMewarisi perusahaan yang dikelola oleh keluarga besar Dhanapati, Ryu Raiden Dhananjaya harus berakhir di dalam perkebunan sawit rimbun Kalimantan Tengah yang jauh dari keramaian dua bulan belakangan ini. Bagaimanapun, ia sulung dari pasangan Gentala Rainer Dhanapati, pengusaha perkebunan kelapa sawit tersohor dan Mika Hayu Lyana Indrajaya—pewaris perusahaan rokok terbesar di Jawa. Jadi, mau tidak mau, Ryu harus rela melanjutkan bisnis keluarga demi membuktikan kualitas dan kemampuannya dan hidup menepi dari hiruk-pikuk perkotaan.
"AZURA!!" Satu detik. Dua detik. Tiga detik. "AZURA!!" "Inggih Bapak (Banjar: Iya, Bapak), maaf Pak, saya baru kembali dari kantin," ucap Rara, begitu Lembayung Azura Arunika akrab dipanggil. Ia menyembulkan kepalanya di pintu ruangan sang bos, tersenyum cantik. "Ngapain di kantin?" tanya Ryu, lelaki berparas rupawan dengan perangai 'buta hejo' kata para karyawannya ini. "Maaf, ini jam makan siang kan Pak?" Rara meringis polos. "Sejak kapan kamu ikut jam makan siang karyawan?" Ryu tetap memandang layar laptopnya meski ia berbicara pada Rara di pintu. "Maaf Pak, kebetulan pagi ini saya nggak bawa bekal, jadi saya beli camilan di kantin," kata Azura polos. "Bapak perlu saya pesankan makan siang juga di kantin?" tawarnya. Ryu menoleh Rara seketika, ia berdecak sebal, "Nggak perlu. Saya mau pergi keluar, makan siang di warung," ujarnya. "Saya panggil Mas Jaka kalau gitu ya Pak." "Jangan! Saya nyetir sendiri!" cegah Ryu. "Baik Pak," Rara mengangguk, mana mungkin ia membantah. "Kamu ikut saya!" pinta Ryu otoriter. "Hah? Saya sudah makan cemilan lho Pak," desis Rara melongo. "Posisi kamu di kantor ini sebagai apa?" tanya Ryu nyolot. Rara menggaruk lehernya yang tidak gatal, Personal Assistant, Pak," ujarnya. "Tugas kamu yang melekat sama posisi itu apa?" Ryu mengejar jawaban sambil berdiri dari kursi kebanggaannya. "Memenuhi semua yang General Manager Agrorai butuhkan." "Terus? Itu artinya kalau saya pergi keluar seharusnya kamu ikut juga nggak?" "Ikut selama masih dalam jam kerja, Pak." "Terus? Kenapa kamu bersikap seolah sekarang sudah bukan jam kerja?" tanya Ryu memojokkan. "Eh, maksud saya, tadi kan Pak Ryu bilang mau makan siang, jadi saya pikir itu ranah pribadi Bapak, bukan urusan kerjaan," ucap Rara ada benarnya. "Kamu bosan kerja sama saya?" tembak Ryu langsung, ia lewati Rara yang berdiri di pintu ruangannya. "Hah? Bukan begitu Pak. Mana mungkin saya bosan," elak Rara cepat. Sedikit banyak, ia mulai bisa membaca apa yang Ryu coba utarakan padanya. "Selama jam kerja belom selesai di jam 4 sore, kamu milik saya, Azura. Entah apapun kegiatannya, posisi kamu melekat pada posisi saya di perusahaan ini!" desis Ryu sejenak menghentikan langkahnya. "Nunggu apa lagi? Masih mau berdiri di situ, atau pulang dan jangan pernah kembali bekerja di sini lagi? Sudah siap ngasih saya surat pengunduran diri?" tantangnya. "Ya?" Rara tercekat sesaat. "Ah, iya, mari Pak, silakan, saya dampingi Bapak ke manapun," ujarnya tersadar. "Saya nggak ngerti kenapa Mama rekomendasiin kamu buat jadi PA saya," dumal Ryu sambil melangkah menuju parkir mobilnya. "Pak Rain juga merekomendasikan saya ke Bapak kan Pak," sahut Rara benar-benar lugu. 'Kalau nggak karena diminta Pak Rain dan Bu Mika, mana bisa aku tahan sama Buta Hejo kayak kamu!' "Terserahmu," gumam Ryu tak terlalu peduli, ia buka pintu kemudi mobilnya sambil melambai pada dua satpam di depan gerbang pabrik. "Azura!" desisnya gemas begitu menyadari sesuatu. "Ya Pak?" Rara tersenyum manis tanpa beban. "Duduk depan! Kamu pikir saya sopir pribadi kamu?" tegur Ryu kesal. Pasalnya, Rara justru duduk di kursi penumpang di belakang bak nyonya besar. "Ah, maaf," cepat-cepat Rara berganti posisi dan masuk di kursi penumpang depan. "Maaf saya kebiasa duduk di belakang mendampingi Bu Mika kalau ada sopir, Pak," cengirnya. "Pantes Mama bilang kalau kamu butuh diselamatkan," cecar Ryu sambil melajukan mobilnya. "Sekarang, saya sadar kalau sebenarnya saya yang perlu diselamatkan!" dengusnya. Rara hanya membasahi bibirnya untuk memberi tanggapan. Ia tahu, semakin ia bicara, Ryu semakin mencercanya. Bos tampannya ini memang sudah terkenal galak, cenderung ke tegas dan tega, mulutnya tajam setajam alat panen sawit yang mirit celurit itu. Belum lagi sindirannya, Ryu adalah juara se-perkebunan Agrorai, perkebunan sawit yang dipimpinnya. Sebaliknya, Ryu memilih untuk diam dan fokus pada kemudinya. Tak ada yang tahu bagaimana isi hati Ryu saat ini. Ryu yang didaulat oleh sang mama untuk turut menjaga sang PA tentu memikul banyak tanggung jawab. Bukan hanya kehendak mamanya, rasa tanggung jawab Ryu atas Rara juga berasal dari hatinya, tentang kenangan di masa muda. Semua kenangan itu terkunci rapat di gelang lusuh yang setia Ryu kenakan, tapi terlupakan oleh Rara seorang.Bagi para tamu undangan yang tidak tahu-menahu perihal permintaan absurd ibu hamil, mereka nampak bertanya-tanya dan saling mengobrol ber-ghibah. Pasalnya, sekarang pemilik hajat berkumpul di satu titik yang sama, di tengah pelaminan. "Mohon maaf Kak, ada permasalahan apa?" tanya Hani, leader dari WO yang disewa Mika. "Bumil ngidam Indomie mie aceh kudu dimasak pake panci Djawa, Han. Dan harus sekarang," Mika yang menjawab. "Kami bantu siapkan," kata Hani siap sedia. "Enggak," Rara menahan lengan Hani yang siap beranjak, "saya mau suami saya yang ngusahain semua, Mbak nggak boleh ikut campur!" larangnya galak. "Oke Kak, saya cuma mau masukin konsep games aja ke acara biar tamu undangan nggak bingung. Kalau kita kawal nggak pa-pa kan?" tanya Hani. "Pokoknya asal Mas Ryu yang nyiapin, masakin, nyuapin," ujar Rara sok imut. "Siap Kak, saya koordinasi sama MC dulu yaa," pamit Hani bergegas memberi info darurat pada timnya mengenai perubahan acara. Setelah MC mengungkap kons
"Yakin aman? Kamu nggak pa-pa?" tanya Ryu meremas jemari istrinya."Aku udah minum anti mual, Mas," jawab Rara, sesekali ia tersenyum cantik, membalas jabat tangan orang-orang yang datang ke pesta resepsinya dengan Ryu."Kalau capek bilang ya, kita bisa istirahat aja, sambil duduk," kata Ryu lagi, perhatian sekali pada sang istri.Pesta resepsi pernikahan yang keseluruhannya diurus dan disiapkan sendiri oleh Mika akhirnya berhasil terselenggara. Segenap keluarga besar Dhanapati dan Indrajaya berkumpul, momen penuh kebahagiaan sang putra mahkota tidak boleh dilewatkan begitu saja. Meski Rara harus berjuang tetap ceria dalam kondisi hamil muda yang dihantam mual muntah setiap saat, acara tidak bisa diundur lebih lama lagi. Mengingat bahwa resepsi itu terselenggara berkat kepiawaian Mika mengatur jadwal para tamu undangan yang sibuk tak keruan, apapun kondisinya, pesta harus tetap berjalan."Rara, aman?" tanya Mika mendekat pada menantunya saat pelaminan cukup lengang dari tamu yang data
Sebulan setelah kepulangan Ryu dan Rara dari Swiss, proses hukum terhadap Bu Endah mulai naik ke pengadilan. Ryu terus memantau pelaksanaan sidang di sela-sela kesibukan bekerja, dan beruntung, Hera kini sudah tinggal bersama mereka di kebun."Rada pusing ya Mas, perasaan aku nggak kepikiran apa-apa semalam ini," desis Rara mengurut keningnya, sepulang dari kantor, sementara membantu suaminya sambil menunggu datangnya PA baru."Obat dari Dokter Luna masih ada kan? Masih sedia?" tanya Ryu sesekali menoleh istrinya khawatir, membagi perhatian dengan kemudinya."Masih Mas, tapi lupa kutaroh di mana ya? Seingetku setelah pulang dari Swiss itu, barang-barang printilan asal kutaroh di lemari kamar tamu, kamarnya Hera," gumam Rara mengingat-ingat."Nanti coba dicari lagi. Kalau nggak, pake paracetamol dulu sementara, ada di kotak kayaknya," sebut Ryu. "Parah banget nggak sakitnya?""Dikit sih, badan rasanya kayak lemes banget gitu, di bawah ulu hati tuh kayak panas banget," keluh Rara."Bent
"Aku minta satu, tapi Allah ngasih 10, luar biasa banget ya Mas," gumam Rara nyaman dalam pelukan suaminya. Keduanya tengah berbaring memandang Pegunungan Alpen berlatar langit biru yang cerah ceria dari ranjang peristirahatan."Sepuluh itu apa aja?" tanya Ryu iseng."Mas Ryu, Mas Ryu, Mas Ryu, Mas Ryu, Mas Ryu, Mama Mika, Papa Rain, Raya, Reiga, dan para Opabro," jawab Rara."Aku banyak banget?"Rara makin menyusup ke bawah ketiak Ryu, "Soalnya Mas emang sebanyak itu maknanya di hidupku. Mas yang nggak pernah ninggalin aku di saat-saat terburukku," ucapnya."Kalau satu yang kamu minta itu tadi apa?""Kebahagiaan," ujar Rara mantap. "Kalianlah kebahagiaan yang kudapat secara cuma-cuma dari Allah," tandasnya.Ryu mengusap kepala istrinya sayang, "Kamu udah melalui banyak hal mengerikan, banyak terluka, jadi kebahagiaan yang sekarang kamu nikmati itu bukan sekedar cuma-cuma," ujarnya meyakinkan. "Kamu pantas ngedapetin ini dan jangan pernah mikir kalau yang kamu dapet setelah perjalanan
"Udara di sini kerasa bersih banget ya Mas," ujar Rara menghela napas dalam-dalam, matanya terpejam."Mau tinggal di sini aja?" tawar Ryu setengah bercanda."Emang boleh?" mata Rara membulat. "Pasti susah, kerjaan Mas gimana kalau kita tinggal di sini," gumamnya. "Lagian, udah bisa sampe sini aja aku udah bersyukur banget. Kalau nggak jadi istri Mas, mana mungkin aku bisa sampe ke Swiss," desahnya penuh rasa syukur."Seneng?" tanya Ryu."Banget Mas, seneng luar biasa. Ini adalah pengalaman pertamaku ke luar negeri. Dan asal Mas tau, semasa aku masih SMP, aku nggak pernah berani bermimpi untuk bisa pergi ke luar negeri begini," cerita Rara. "Seandainya aku bisa ajak Ayah dan Bunda," sebutnya."Surga lebih indah, Azura. Kamu tenang aja," hibur Ryu.Senyum Rara terbit, ia peluk pinggang suaminya sesaat, matanya mengitar. Hamparan gunung hijau begitu memanjakan mata, pun dengan barisan sapi perah di peternakan Opa Kemal yang menambah keindahan alam di sekitarnya."Kenapa Opa Kemal mutusin
Ryu yang bertanggungjawab atas segala keperluan perawatan dan pemakaman Pak Darwis, pun juga rangkaian pengajian di tiga hari setelahnya. Selama masa itu pula, ia tidak pernah meninggalkan istrinya, setia mendampingi, menjaga Rara dan memperhatikannya. Si malang ketua OSIS yang terkenal cantik dan ceria itu kini tak lagi memiliki orang tua, Ryu menyandang peran ganda baginya. "Maaf ya Mas, Mas yang sejauh ini direpotin dan harus nanggung semua biaya," desah Rara dengan wajah pucat dan mata sembabnya. Beruntung, hati dan mental Rara sudah jauh lebih kuat dan terlatih. Jadi, meski jiwanya terguncang oleh kepergian Pak Darwis yang tiba-tiba, Rara tak lagi histeris, pikirannya sudan tertata, hatinya sudah jauh lebih siap menghadapi luka. Rara tumbuh mendewasa di sisi Ryu yang selalu ada untuknya. "Itu kewajibanku, Azura," jawab Ryu mengembangkan senyum. "Maaf karena masih harus terlibat sama makhluk tamak kayak Bu Endah. Seharusnya uang dari para pelayat dipake untuk keperluan pengaji
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen