BENALU
Aku benar-benar belum mengenal wanita yang berdiri di sebelahku ini.
“Perkenalkan Pak nama saya Berlian Syafirda, biasa di panggil Berlin,” jawabnya seraya meninggikan nada saat menyebutkan namanya. Tanpa aku persilahkan duduk, dia sudah duduk duluan di kursi depanku.
“Bentar ya, Mbak, saya lagi telponan dengan istri saya, biar saya pamit matikan dulu,” ucapku. Perempuan itu mengangguk seraya tersenyum.