Selubung Memori
aku terkesiap, tiba-tiba sudah menoleh ke Bibi.
Benakku langsung jatuh. Bibi—tidak lagi terlapiskan kabut tipis dan pendar putih. Bibi—hanya terlihat seperti manusia biasa. Aku tidak yakin dengan apa yang kulihat, jadi aku mengerjapkan mata berulang kali, berusaha memastikan sungguh-sungguh. Namun, tidak berubah. Bibi memakai gaun putih suci yang begitu bersih sampai Bibi terasa bersinar. Wajahnya seribu kali lebih cantik dari sekadar pendar putih. Rambutnya tergulung ke belakang, diikat dengan simpul dan pita. Tingginya hampir setinggiku, dengan senyum lebar yang terlukiskan begitu manis.
“Selamat datang di Perbatasan, Forlan.”
Hot Chapters