Hati Biru Affa
Kedua tangan Mutia yang semenjak tadi bersembunyi di belakang tubuhnya, sekarang kembali ke depan, menampilkan sebuah buket bunga.
“Bukankah seharusnya aku yang memberikan?” tanyaku lembut. Dia hanya tersenyum dengan air yang tipis mengalir dari matanya. Aku menerima buket itu, lalu mengembalikannya.
“You are mine,” bisikku di telinganya. Sebetapa klisenya pun, jika masalah rekayasa, sepertinya aku sudah terbiasa. Cap mereka akan ku terima nanti. Hinaan mereka akan ku dengarkan nanti. Tapi, sekarang, Mutia adalah kekasihku.
Hot Chapters