Ada satu fase di mana aku merasa terjebak dalam lingkaran pikiran tentang seseorang, sampai-sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Awalnya, aku mencoba mengalihkan perhatian dengan hobi lama seperti menggambar atau membaca 'The Midnight Library'—novel yang mengingatkanku betapa banyak cerita lain di luar dirinya. Lama kelamaan, aku menyadari bahwa memblokir kontaknya di media sosial justru memberi ruang untuk bernapas. Bukan tentang kebencian, tapi tentang memberi diri waktu pulih.
Aku juga mulai menulis jurnal setiap kali rasa rindu atau penasaran muncul. Proses menuangkan emosi ke kertas seperti mengeluarkan racun perlahan. Sekarang, ketika pikiran tentangnya mencoba menyusup, aku ingat kata-kata dari podcast favorit: 'Kamu bukan arsip untuk kenangan seseorang.'