Ada kalanya memori lama muncul seperti hujan di tengah terik, membasahi semua yang seharusnya kering. Alih-alih berusaha melawannya, aku belajar menyambutnya sebagai bagian dari perjalanan. Misalnya, ketika nostalgia akan 'Clannad' menghantam, kubaca ulang manga atau menonton episode favorit—bukan untuk tenggelam dalam kesedihan, tapi merayakan keindahan yang pernah disentuh.
Ternyata, menulis jurnal juga membantu. Aku menggambar karakter dari 'Genshin Impact' di margin sambil menceritakan kenangan, seolah mereka jadi pendamping. Proses kreatif ini mengubah kepedihan menjadi sesuatu yang bisa dipelajari. Lama-kelamaan, masa lalu terasa lebih seperti museum pribadi: tempat mengunjungi, bukan tinggal.