DALAM DEKAPAN MAFIA
21++
Cerita dewasa!!! Bijaklah memilih bacaan!
"Aku... mencarimu untuk berterima kasih," ucap Luna pelan, hampir ragu.
Luke baru mengangkat pandangan dan tatapannya turun, pelan, tidak sopan, seolah sedang menilai Luna. Merah gaunnya memotong hitamnya ruangan seperti luka yang belum menutup.
"Berterima kasih?" tanya Luke, suaranya berat.
Luna menggenggam jemarinya sendiri, caranya berdiri terlalu lurus dan kaku. Tidak ada senyum dan tidak mendekati Luke. Ia seperti seseorang yang datang ke ruang pengadilan.
"Ya. Berterima kasih karena akhirnya aku mendapatkannya dan semua itu tidak akan terjadi jika bukan karena kamu," ucapnya hampir parau.
Luke menyandarkan punggungnya ke sofa. Satu kakinya bergeser, memberi ruang kosong di sampingnya—gerakan kecil, hampir tak terlihat, tapi penuh makna. Sementara bibirnya mengulas senyum licik yang sangat samar.
"Terima kasih tidak membutuhkan gaun seperti itu," ucapnya datar.
Merah gaun itu bukan sebagai godaan yang ia minta, tapi sebagai tanda Luna tidak sedang bermain melainkan sedang belajar berjalan di wilayah yang salah. Dan Luke tahu—perempuan di hadapannya belum menjadi monster, tapi sudah berhenti menjadi korban.
"Namun, kau datang sendiri, dengan warna yang sangat berani. Di duniaku, ini disebut undangan," lanjut Luke dengan tenang.