GAIRAH ISTRI LIAR
Matanya menyipit, mengendus aroma shampo dari rambut yang sudah kukeringkan dengan hairdryer.
"Kau gila, Erik. Aku tak perlu memamerkan kebahagiaanku pada siapa pun!" sanggahku.
Kurasa pikirannya berkecamuk melihatku yang keramas pagi-pagi. Isi kepalanya pasti sedang travelling, membayangkan yang bukan-bukan antara aku dan Kahfi di dalam kamar. Dan kurasa, aku mulai menyukai hal itu.