PERFECT HUSBAND
titahnya aku mengangguk dan tersenyum.
“Makasih ya mas, ya udah aku istirahat dulu,”ujarku. Aku beranjak kekamar tidur, ku coba mengatuur nafas saat tiba-tiba reluungku sakit membayangkan mas Feri mendatangi Rara dengan hasratnya. Andai aku bisa melawan phobia ini sedikit saja, mungkin aku tidak perlu meminta orang lain untuk kebutuhan suamiku, tiba-tiba air mataku merintik sontak aku duduk dan kembali mengambil ponselku, entah kenapa aku ingin bicara lagi dengan mas Feri. Tapi kembali aku urungkan niatku takut ganggu mungkin saja mereka sedang menikmati malam-malamnya, fikiran di benakku selalu bertanya-tanya kenapa aku berbeda kenapa aku tidak bisa seperti mereka yang juga haus akan sentuh
Chapitres populaires