Melawan Suami dan Mertua
“Aku pacaran dengan suami orang sudah sekitar enam bulan, Ma. Dia sering belanja di minimarket tempatku bekerja. Punya bengkel dekat-dekat situ. Dalihnya, istrinya itu matre, tidak perhatian, dan memang sudah mau dicerai. Ya, waktu itu aku bodoh sudah mau kemakan omongannya. Aku juga dengan gampang saja percaya bahwa dia akan menikahiku. Kami jadi sering berhubungan badan karena aku merasa dia sangat baik dan pasti akan memegang kata-katanya. Sering kasih uang juga untuk keluarga di kampung.”
Mama memperhatikan ceritaku dengan seksama. Dia terlihat mengangguk-angguk. Namun, tak ada sedikit pun ekspresi menghakimi dari rautnya.
“Empat hari yang lalu istrinya tiba-tiba memergoki kami. Aku kage
الفصول الرائجة