Ada sebuah cerita tentang Pak Bambang, seorang tukang becak di Surabaya yang berjuang membesarkan tiga anaknya sendirian setelah istrinya meninggal. Setiap pagi buta, dia sudah mengayuh becaknya sambil membawa bekal nasi bungkus untuk anak-anaknya. Yang membuatnya luar biasa adalah cara dia selalu menyisihkan uang receh untuk membeli buku bekas di pasar loak. 'Aku nggak bisa kasih mereka warisan harta,' katanya pada tetangga suatu hari, 'tapi aku bisa kasih mereka warisan ilmu.' Kini, anak sulungnya jadi dokter di rumah sakit daerah, si tengah lulus cumlaude dari ITB, dan yang bungsu baru saja memenangkan olimpiade sains nasional.
Yang paling mengharukan adalah kebiasaan keluarga mereka setiap Minggu pagi. Meskipun sekarang kondisi ekonomi sudah lebih baik, mereka tetap berkumpul di teras rumah kecil itu sambil sarapan bersama. Pak Bambang selalu bercerita tentang pelanggannya yang unik-unik minggu itu, sambil tersenyum melihat anak-anaknya yang sudah besar itu masih anteng mendengarkan seperti saat mereka kecil dulu. Ini membuktikan bahwa keluarga yang kuat dibangun bukan dari kemewahan, tapi dari kebersamaan dan tekad yang bulat.