Kultivator Inti Semesta
Dan ketika Sukiang menyadari, semuanya sudah terlambat.
Bai Ruochen telah berada di belakangnya, memegang sebuah cermin tembaga. Cerminnya tidak besar, tapi aura yang terpancar dari benda itu membuat bulu kuduk para penonton berdiri. Semua orang dapat melihat, meski hanya sekilas, bahwa cermin itu bukanlah cermin biasa. Permukaannya dipenuhi simbol-simbol kuno yang berpendar perlahan, dan tiap pendaran itu seperti menyentuh dasar arena, memicu getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka terhadap energi ilahi.
Hot Chapters