Membuat cerita tidur romantis itu seperti merajut mimpi dengan kata-kata. Aku selalu mulai dengan membayangkan suasana—misalnya bulan purnama di tepi danau atau kota Paris yang diterangi lampu-lampu. Detail sensorik penting: desir angin, aroma kopi dari kafe terdekat, atau hangatnya selimut bersama. Karakter biasanya kuberi sifat yang mencerminkan kelebihan pacarku, tapi kuselipkan juga kelemahan lucu agar relatable. Plotnya sederhana saja, mungkin tentang pasangan yang tersesat lalu menemukan kedai es krim favorit, atau berusaha memasak makan malam gagal tapi justru jadi kenangan manis. Kunci utamanya adalah ending yang membuatnya tersenyum sebelum tidur, bukan cliffhanger yang bikin penasaran.
Aku sering meminjam elemen dari film atau buku favorit kami berdua—katakanlah referensi tersembunyi dari 'Before Sunrise' atau adegan berbagi耳机 di 'Your Name'. Tapi yang paling penting adalah sentuhan personal: selipkan inside jokes, kenangan bersama, atau hal-hal yang sedang ia rindukan. Terkadang aku rekam suaraku membacakan cerita itu sebagai hadiah tambahan.