Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mutiara Lembah Hitam

Mutiara Lembah Hitam

Debu menempel di sana sini. “Silahkan masuk, Nes.” Andin membukakan pintu. Aroma kurang sedap menguar dari ruangan yang tak kalah suram dengan bagian luar. Debu dan sampah cemilan berserakan di atas meja ruang tamu. Dengan perasaan sedih, Nesa menatap kondisi rumah Om Beno yang kini tampak seperti rumah yang tidak dihuni bertahun-tahun. “Kamu tinggal di sini, Ndin?” Nesa tak tahan untuk tidak bertanya melihat betapa kotor ruangan itu kini.
106.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 222 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
MARTA, cinta kedua

MARTA, cinta kedua

Menemani Pak Arka ke pesta anggap saja lembur bergaji gaun mahal, hahaha. [Oke, Nyonya. Nggak masalah. Minggunya ya? Aku nginep di penginapan.] [Aku usahakan,] [Janji?] [Ihs, jangan kaya abege deh,] [Hahaha.] Aku kembali memasukkan ponsel ke dalam saku. Ada debar halus yang selalu terasa jika itu tentang Panji. Semakin ku tepis, semakin kuat debar itu ku rasa.
9.823.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 469 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Terbangun: Ingatan Yang Hilang

Terbangun: Ingatan Yang Hilang

“Iya El lumayan lah ya, meskipun katanya penginapan termurah di kota ini.” “Tapi aku tidak pernah melihat kamar model begini loh... gimana ya bilangnya bingung aku tidak punya kata yang tepat” “Modern maksudmu?” “Nah iya modern, selama ini penginapan yang kita sewa selalu biasa saja kan.” “Biasa saja lebih ke terkesan kuno dan seperti seadanya ya haha..” “Yah namanya juga tempat penginapan pengelana jadi kebanyakan ya sederhana saja”
1.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 53 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha

Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha

Penginapan itu bernama The Pine Shelter, sebuah bangunan kayu tua bergaya rustic yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Arsitekturnya sederhana, dengan dinding kayu gelondongan dan atap sirap yang ditumbuhi lumut. Begitu mereka masuk ke dalam kamar yang diberikan oleh resepsionis tua di lobi, atmosfer berubah drastis. Kamar itu kecil, mungkin hanya seperempat dari luas ruang ganti mereka di kota. Tidak ada marmer dingin, tidak ada teknologi mutlak, dan tidak ada kemewahan yang mengintimidasi.
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Tiga Mayat Satu Takdir

Tiga Mayat Satu Takdir

Aroma roti panggang dan kayu bakar menguar dari dapur kecil di dalam, bercampur dengan bau debu dan keringat yang masih melekat pada pakaian Kael dan kelompoknya. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela yang retak, menerangi ruangan sempit tempat mereka duduk di meja kayu usang, penuh goresan dari tamu-tamu sebelumnya. Setelah malam penuh pertempuran dan ketegangan, penginapan ini terasa seperti tempat berlindung sementara, meski bayangan Pemburu Crimson masih mengintai di pikiran mereka.
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia

Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia

Dan di sana… Ia menemukannya. Sebuah penginapan kecil yang berdiri di sudut jalan—bangunannya terbuat dari kayu gelap yang sudah lapuk namun masih kokoh, dengan atap genteng hijau tua yang ditutupi lumut tipis. Di depannya tergantung sebuah papan kayu sederhana dengan tulisan "Penginapan Angin Tenang" yang terukir dengan tangan. Tempat itu sepi. Tidak ada suara kebisingan. Tidak ada kerumunan kultivator. Hanya… ketenangan.
1082.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Legenda Penjinak Monster

Legenda Penjinak Monster

Namun, jalanan tanah kehitaman yang penuh lubang dan penyok, lubang pembuangan kotoran sesekali di pinggir jalan, dan dinding bangunan tua yang kehitaman dan bobrok menunjukkan bahwa tempat ini lebih mirip daerah pinggiran yang menghubungkan kota dan pedesaan. Lin Ke menemukan sebuah penginapan di sudut jalan—papan namanya hampir roboh—dan membuka pintu kayu tua dan lusuh dengan tanda 'Buka' yang tergantung di atasnya. Dia melewati koridor yang remang-remang, panjang, sempit, dan pengap, lalu berjalan ke meja resepsionis penginapan. Seorang wanita kulit hitam paruh baya dengan rambut keriting yang khas sedang membungkuk dan merajut sweter.
1.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Legenda Negeri Kaili

Legenda Negeri Kaili

Tuan Wu menyahut pelan. Keduanya terdiam dan hanya memandangi api yang berkobar. Penginapan tempat mereka menginap jauh dari kata layak huni. Hanya sebuah bangunan tua milik petani tua yang terpaksa harus hidup seorang diri di wilayah ini. Kondisi yang dapat ditemukan di manapun mereka melangkah di pusat Dataran Tengah.
107.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 179 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Istri Gendutku dari Desa Ternyata Orang Kaya

Istri Gendutku dari Desa Ternyata Orang Kaya

Aku manggut-manggut sambil celingukan memindai setiap sudut bangunan penginapan yang kini berderet di hadapanku. Penginapannya sederhana sih, tapi mayan bersih dan asri karena banyak pepohonan di halaman penginapannya. "Ayo masuk, Bang." Aku pun mengekor si Pipit meski dengan langkah ragu-ragu. "Ini gak apa-apa kita cuma berdua di sini Pit?" "Gak apa-apa emang kenapa? Bentar lagi juga anak Pipit dateng kok, Bang," jawabnya seraya menutup pintu penginapan.
9.9194.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.2K kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
REKAMAN DESAH DARI SEKRETARIS SUAMIKU

REKAMAN DESAH DARI SEKRETARIS SUAMIKU

“Biar jelek yang penting bisa untuk berteduh, Rin. Lagian bisa direnovasi kalau udah ada uangnya. Ayo, kita masuk. Luarnya memang kusam, tapi dalamnya lumayan, kok.” Erina terdiam sejenak, aku mendahului ke luar dari mobil. Kuturunkan juga tas berisi pakaian dan membawanya masuk ke rumah baru kami. Saat pintu utama kudorong, derit nyaring dari engsel pintu kering memekakan telinga. Udara di dalam rumah pengap dan bau debu, sebab rumah ini memang sudah lama tak dihuni manusia. Walaupun aku sudah meminta pemilik sebelumnya membersihkan rumah ini, sepertinya debu di sini belum bersih semua. “Gimana, lumayan kan, enggak jelek-jelek banget.”
1019.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 490 kali sebagai penginapan di debu debu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status