MERTUA IDAMAN
“Kamu belum menyadarinya untuk saat ini. Lambat laun, kamu pasti akan paham. Di balik kekurangan itu, ada kelebihan.”
“Apa, Ibu? Aku bahkan tidak merasa memiliki kelebihan apapun,” kataku lirih.
“Ada. Ibu dan Yusuf sudah mengetahui kelebihan kamu.”
“Apa, Ibu?”
Ibu meletakkan tangannya tepat di dadaku. “Hati kamu. Kamu polos, kamu tulus, kamu berani jujur mengakui semuanya. Kamu juga punya keinginan kuat untuk belajar. Itu kelebihan kamu, Almira. Ibu takjub saat pertama kali mendengar pengakuan polosmu itu. Pantas saja kalau Yusuf sampai meminta ibu mendoakannya sungguh-sungguh supaya bisa mendapatkan kamu.”