DALAM DEKAPAN WANITA MALAM
joya melirik Wangsa yang dari tadi tak bersuara.
“Joy, kali ini saja, kamu nurut sama kami, ya? Kasihan Damar, ada banyak hal yang harus dia urus. Dia juga harus mikirin cabang baru kafenya yang di Bantul. Iya, kan, Mar?” wangsa menatap ke arah Damar.
Damar masih belum menangkap apa yang Wangsa maksudkan, akan tetapi lelaki itu memilih mengangguk, mengiyakan saja tanpa banyak tanya. “Eh, iya- iya, Om.”