Malam Panas, Hati yang Membeku
"Baik, kalau begitu aku bawa kamu naik ke atas untuk tidur, ya?"
Morin dengan lembut merangkul pinggangku, memapahku perlahan menaiki tangga.
Saat naik, dia masih menggunakan suara lembut, seakan sedang membujuk anak kecil,
"Hati-hati tangganya, satu, dua, tiga ...."
"Mia hebat sekali, nanti malam aku pulang lebih cepat untuk memasak yang enak sebagai hadiah untukmu."
Aku tersenyum getir tanpa suara, bibirku terangkat tipis.
Hot Chapters