Terpaksa Menikahi Ibu Guruku
“Jangan, dong, pengantin baru nggak boleh capek-capek di malam pertamanya.”
Papa terkekeh, sementara aku hanya mampu menelan ludah. Malam pertama? Mana ada malam pertama. Aku dan Yura sudah bersepakat, meskipun menikah kami tetap akan hidup masing-masing. Kami sudah saling rida melepaskan hak dan kewajiban suami istri, yang penting terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga.
“Bu Yura, kita … tidur sekamar?” tanyaku ketika kami sama-sama telah berada di dalam kamar.