PERNIKAHAN KEDUA
Aku menunduk, mencium pipinya dengan lembut sambil memanjatkan doa, lupa bahwa ada sepasang mata lain yang menatapku.
"Sembuhlah, Bang. Abang sangat beruntung karena ada orang yang sangat mencintai Abang."
Aku menoleh dan mendapati Diaz tersenyum.
***
Hari H
Ruangan itu perlahan tertutup. Aku duduk di kursi tunggu, bersama Lea, Tante Arumi dan Om Frans. Kami semua tertunduk dalam hening, sementara aku tahu dengan pasti, bahwa hati kami masing-masing riuh berdoa. Di dalam sana, dua orang yang kusayangi akan segera berjuang antara hidup dan mati. Masih kuingat tatapan Bang Zaid tadi, senyumnya, dan kata-katanya yang menyejukkan dan menyemangati. Ah, selalu begitu. Dia yang akan dioperasi, tapi