SPERANZA
"Apa yang terjadi kepada ku?"
"Mengapa aku begitu marah?"
Speranza terus bermonolog sendiri. Dia kembali meneguk soda itu. "Aku tidak seharusnya marah, aku hanya bosan dan berniat untuk mengerjainya."
"Aku menjadikannya kekasih hanya untuk bersenang-senang, tapi mengapa aku marah saat perempuan itu memberikan perhatiannya," geram Speranza.
"Aku tidak bisa melakukan kesenangan ku disini, mereka memintaku untuk menjaga sikap. Tapi, bagaimana aku bisa menahan emosi dan hasrat ku?" gumam Speranza.
Hot Chapters