Istriku Tua
Kukunyah perlahan nasi yang terasa hambar, karena cacing di perut sudah keburu ngambek sebab kelamaan diisi.
Dulu, ketika masih bersama Fani. Aku tak mau makan kalau cuma lauk beginian, tapi kini ... buat makan yang beginian saja aku harus berkerja keras terlebih dahulu. Fani, aku kangen. Kangen kesejahteraan yang dulu, kangen bernapas tanpa beban. Ya Tuhan, azab-Mu begitu nyata adanya. Kini aku sadar, tak mensyukuri nikmat-Mu selama ini. Berlagak bosan dengan kehidupan yang sudah enak tanpa harus mengeluarkan keringat, selalu mencela istriku yang tulus walau bertubuh jauh dari keindahan mata memandang. Ampuni ke-khilafan hamba, Ya Allah.
"Om, kok makan sambil nangis, sih?" Suara cempreng Du