Rasaku Ditelanjangi
katanya.
Dan aku menyerah. Pasrah. Aku tak ingat sudah klimaks ke berapa Sabtu ini.
Ia memasukkannya lagi, tak pelan, tak lambat. Tubuhku gemetar karena begitu banyak rasa menyerbu bersamaan: rindu yang tumpah, cinta yang meledak, dan luka yang nyaris sembuh namun kembali menganga.
Tanganku mencengkeram punggungnya. Air hangat masih terus mengguyur kami, menyamarkan isak kecilku yang tak tertahan lagi.