여기 filosofi wayang bima와 관련된 25개의 소설이 있습니다. 일반적으로 filosofi wayang bima와 같은 이야기는 Pendekar, Thriller 및 Fantasi 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Pendekar Iblis (Warisan Iblis Tanduk Api) 부터 시작해보세요!
kata Weling Ireng lalu tanpa basa basi lagi langsung melesat ke arah Bima.
Gerakan Weling Ireng cepat dan langsung menuju ke titik-titik lemah tubuh. Bima dengan cepat menangkis nya dengan kedua tangan dan kakinya secara bergantian. Sambil menahan serangan Bima mencibir Weling Ireng.
"Kalian orang-orang pengecut, takut murid kalian mati di tanganku?" tanya Bima membuat Weling Ireng terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Weling Ireng penasaran.
Bima menggeleng
"Aku cuma dengar dari berita para pendekar yang datang dari Timur. Di tempat itu dulunya pernah terjadi perebutan Kitab Pusaka Sang Hyang Agni. Semua pendekar yang ada di situ mati dan jiwa mereka ditahan oleh Raja Iblis. Bapakku salah satu pendekar yang mati di sana."
"Siapa nama Bapak Ki Sanak?"
"Bapakku bernama Jolodhong."
Rangga terkejut mendengarnya
"Jolodhong? Apa dia memiliki ilmu meringankan tubuh Bayu Sumilir?"
Wajah Bima seketika berubah
"Darimana kamu tahu? Hanya pendekar-pendekar lama saja yang mengetahui tentang Bapakku,"ujar Bima.
Keluarga Laskar Paracendekia.
Di suatu masa di bulan Ramadan …
“Bee, kau perlu mengubah etikamu agar bisa ikut lomba debat di Bali tahun depan,” ucap mr. Bima.”
“Aku ndak suka berdebat Sir!”
“Ini bukan debat kusir lah, Bee,” respon mr. Bima merendahkan nada.
“Terus?”
“Kau pernah lihat Rocky Gerung berbicara liar penuh filosofi di acara ILC?”
Arya berusaha mengamati siapa gerangan yang datang, namun setelah 7 tombak barulah ia dapat melihat jika yang datang itu Wayan Bima dengan kuda tunggangannya.
Wayan Bima langsung membawa kuda tunggangannya ke belakang rumah di mana di sana terdapat kandang tempat biasa kuda itu ditaruh, kemudian ia pun berjalan ke depan menghampiri Arya yang duduk sambil tersenyum menyambut kedatangannya.
kata Gilang dengan wajah bergetar.
“Kalian... kalian semua benar-benar gila,” kata Bima. Tenggorokannya terasa kering.
“Bagaimana denganmu? Tidak berencana melakukan hal yang sama?” tanya Gilang sambil tersenyum main-main.
“Saya...”
Bima mengelus dagunya.
Ia yang selalu menganggap dirinya rasional dan logis memandang pemandangan di luar jendela.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan rasionalitasnya sendiri.