Wanita Yang Melamar Suamiku
“Maaf, isinya hanya sedikit, Ning! Enggak sampai setengah juta. Aku dibayari delapan puluh ribu sehari. Beda dengan yang lain, enggak apa-apa, ya! Kata Mandor, nanti kalau aku udah mahir kerja, gajiku juga bakal ditambah."
“Tetap bersyukur, dong, Mas! Mas, kan memang belum paham kerja bangunan. Sabar, ya!” ucapku membesarkan hatinya.
“Mana, gajinya, Git? Sini serahkan sama Ibu!” Tiba-tiba Ibu sudah berdiri didepan kami sambil menjulurkan tangan.
“Kasihkan, Ning! Sisihkan sedikit buat pegangan kamu!” titah Mas Sigit.