STEMPEL MISKIN UNTUK KELUARGAKU
“Hahaha, mimpi apa kamu semalam, Tan. Jangan bergurau, ah.”
“Mimpi kamu dilamar bang Satria,” sungutnya.
“Iya kali, kamu yang dilamar Bripka Agus.” Aku mencolek dagu Intan, wajahnya kembali bersemu merah.
“Jangan ngarang juga, deh, Nia,” ujar Intan cemberut. Kami saling berpandangan, sontak tawa pun menggema di kamarku.
Aku mengambil gamis polos berwarna moca, gamis yang aku gunakan dulu ketika masih kuliah. Gamis pemberian bang Ilham, sebagai hadiah karena mendapatkan IPK 3.67, pada semester tujuh.
Hot Chapters