PEONY
Deus pun berdiri, turut menyunggingkan senyum, lantas menjabat tangan itu.
"Thadeus Nenggala."
"Ah, saya banyak mendengar soal anda. Arsitek terbaik di Indonesia."
Deus memaksakan senyum lagi. "I'll take it as a compliment."
"Indeed it is."
Jabatan tangan itu terlepas. Deus tak sabar ingin segera ke toilet dan membasuh tangannya dengan sabun hingga terbebas dari segala kuman penyakit. Ia duduk, kembali melanjutkan makan malamnya yang terhambat. Walaupun terlihat sibuk sendiri, ia tetap memasang telinga tajam-tajam atas percakapan yang berlangsung antara Sabit dan Sade.
Hot Chapters