Seumur Hidup Terlalu Lama
Semuanya ia bayar dengan uang dari dompet mungil—sisa-sisa jatah bulanan yang ia sisihkan diam-diam.
“Rahuma Kinanti? Ngapain kamu ke toko kimia? Mau membuat bom, ya?”
Sebuah suara bariton menembus pendengarannya. Uma cepat-cepat berbalik.
Gentala Hanenda. Kakak Arumi Hanenda, sahabatnya saat SMA.
Genta tidak banyak berubah. Masih sama—tampan rupawan, dengan sorot mata jahil yang khas.
“Iya, kalau yang aku beli itu Cottoclarin, Texapone, atau Na₂SO₄,” sahut Uma ketus. Dari dulu, ia memang tidak pernah menyukai Genta karena keusilannya.