Belenggu Sang Bos Mafia
Seminggu sudah berlalu, dan Tonny akhirnya menyadari bahwa aku tak lagi meminta-minta uang padanya.
Saking senangnya, pria itu sampai meluangkan waktu untuk mengirimiku pesan singkat, sebuah pujian yang langka. [Sayang, akhirnya kamu paham juga caranya jadi istri ketua mafia yang pantas.]
Dia bahkan menambahkan janji manis. [Obat khusus buat ibumu sudah aku kirim. Selama kamu bersikap manis dan tidak serakah, aku akan kasih segalanya buat kamu.]
Tonny tidak tahu, saat pesan itu masuk, aku sedang berdiri di depan mesin cetak, menunggu lembar demi lembar surat cerai keluar.
Saat itu aku masih mengenakan gaun usang dari tiga tahun yang lalu.
Di balik kemewahan statusku sebagai istri ketua mafia yang ditakuti, tak ada yang percaya bahwa untuk sekadar membeli pembalut pun, aku harus mengemis pada Helen, orang kepercayaannya.
Aku pun harus mengajukan izin tiga hari sebelumnya hanya untuk bisa keluar rumah.
Tonny selalu berdalih bahwa itu semua demi melindungiku.
"Di luar sana terlalu berbahaya, Sayang. Kamu cukup diam di rumah aja."
Namun, segalanya hancur seminggu yang lalu. Saat Ibu kritis, aku memohon pada Helen agar mengizinkanku pergi tanpa melewati prosedur birokrasi yang konyol itu.
Helen sengaja menahanku selama lima hari dan baru melepaskanku setelah Ibu mengembuskan napas terakhir.
Obat khusus? Buat apa lagi? Ibu sudah tiada, dan kesabaranku pun sudah habis.