Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku
Fahmi akhirnya menarik napas panjang, menutup mata sejenak, lalu membuka kembali.
“Oke … kalau itu maumu.”
Hanya kalimat itu. Singkat, tapi mengguncang dada Rina.
Tanpa banyak kata, mobil meluncur menembus jalanan malam yang masih padat oleh euforia konser. Rina bersandar di kursi, memeluk dirinya sendiri. Air matanya masih terasa hangat di pipi, namun hatinya kini dipenuhi rasa campur aduk—pahit, sakit, tapi juga … semacam gairah aneh yang tak bisa ia jelaskan.