Pesona Gadis Penggoda
Tidak lagi memikirkan apa itu anak durhaka, ia ingin bapaknya cepat mati agar hidupnya tenang.
“Kamu nggak boleh bilang begitu.” Ibu Rike mengusap air matanya. Satu tangannya lalu terulur, mencoba menyentuh pipi putrinya.
“Ibu terlalu naif. Manusia seperti itu harus kita benci, Bu. Aku nggak durhaka hanya karena melawan manusia yang nggak pantas disebut bapak. Dia nggak pernah tanggung jawab sama kita. Taunya hanya judi, mabuk dan menyusahkan kita.” Bibir Gadisa bergetar. “Kenapa aku nggak punya bapak seperti yang lain, Bu? Yang sayang sama anaknya, yang perhatian, yang bisa dijadikan tumpuan.”