Rasaku Ditelanjangi
Di rumah yang setiap sudutnya menyimpan kenangan, juga kebohongan.
Karena aku punya Khaira. Karena aku takut sendirian. Karena dunia terlalu kejam pada ibu tunggal.
Dan karena... aku belum cukup berani untuk pergi.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, Ajeng?”
Suaraku sendiri terdengar asing. Nyaring, tapi tanpa gema.
Aku menyiapkan sarapan seperti biasa. Telur dadar, nasi hangat, dan potongan buah. Khaira suka anggur. Sementara aku sendiri belum tahu apa yang kusuka. Semuanya terasa hambar.