Dimanja Tiga Majikan Cantik
Di dalam kamar sempit yang pengap itu, aku duduk bersila di atas kasur lipat, menatap kosong ke arah tembok yang catnya mulai mengelupas.
"Nggak bisa. Aku nggak bisa cuma modal percaya sama omongan bapak tua itu dan tanda lahir doang. Zaman sekarang butuh bukti ilmiah. Jangan sampai aku udah setres mikirin dosa inses, eh ternyata cuma kebetulan doang."
Tekadku bulat.
Aku harus mencari bukti yang lebih konkret, bukti yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, bahkan oleh Tuhan sekalipun.