Pelakor Itu Ternyata Bawahanku
"Kamu serius, Wulan? Kamu menyalahkan Juna? Padahal semua bukti sudah jelas di depan mata."
Aku menatapnya, tidak dengan amarah, tetapi dengan ketenangan yang telah lama aku latih. "Bu Hanum, kamu lupa satu hal penting."
"Apa?" tanyanya, kedua tangannya masih melipat di dada.
"Bukti adalah sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan, bukan sekadar omong kosong yang ditiupkan angin," jawabku dengan nada setenang air, tetapi setiap kata mengandung ketegasan.