Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
’’ panggilku karena seketika dia terlihat termangu.
‘’Ah iya, Bi?’’
‘’Bibi mungkin nggak pernah merasakan apa yang Ibu rasakan. Bibi yakin rasanya begitu perih dan hancur sekali. Tapi, cobalah berdamai, Bu. Jangan pikirkan lelaki yang nggak pantas untuk diperjuangkan. Bibi yakin dengan keputusan Ibu yang menyerahkan lelaki itu ke si Pelakor. Karena sampah harus dibuang pada tempatnya. Juga karena Ibu berhak bahagia,’’ kataku panjang lebar. Kedua netranya tampak berembun dan menatapku dengan tatapan sendu.