DIARY SKIZO
Aku tertawa, tawa yang mungkin terdengar sinis, sementara degup-degup di dada semakin tak terarah.
"Pantes apa enggak, seorang laki-laki terhormat ngomong kayak gitu ke istri orang?" kutekankan intonasi pada kata istri orang, untuk menyadarkan diri sendiri.
"Terserah kamu anggap apa. Aku cukup tahu kondisi rumah tangga kamu, dan aku nggak rela lihat kamu kayak gini."
"Wah, sejak kapan belajar jadi mata-mata? Atau kamu dah jadi peramal?" cecarku, dengan senyum tertahan.