Masakan Mertua
Kali ini aku kembali menggunakan nada tingti, tapi apa yang kulakukan ini hanya supaya ia sedikit tenang dan mendengar perkataanku.
"Kamu tidak sendiri, kamu punya Allah. Disini, Allah ada disini setiap waktu. Kamu paham?" Kutunjuk dadanya dengan sedikit penekanan dan kutatap kedua matanya dalam.
"Ibumu butuh doa, bukan tangisan murahan seperti ini. Terlebih apa? Kamu mau ikut dengannya? Silahkan! Bisa saja ibumu masuk surga, sedangkan kamu jangankan masuk kesana, mencium bau wanginya saja tak akan diijinkan oleh Allah jika kamu berbuat yang tidak-tidak. Kamu paham? Aku yakin ibumu tak akan menginginkan kamu seperti ini sekarang. Ibumu butuh anak yang bisa mendoakannya sampai nanti! Paham?"