KEMBALINYA SANG RATU
Yang kelima—dan kelima belas—hanya bisa dilihat dalam keheningan batin.
“Begitu juga dengan kebenaran,” bisik Sensei Tanaka. “Ia tak akan tampak jika kau mencarinya dengan mata saja. Kadang kau harus melihat dengan jiwamu.”
Lintang duduk bersila di hadapan taman itu. Ia menarik napas dalam, dan dalam keheningan itulah ia seperti melihat bayangan wajah-wajah: para petani di Buton, anak-anak Runduma, para nelayan di Jeju, gadis Kurdi, pemuda Afrika, para guru tua di Kyoto.