Imperfect Love
“Sekarang sudah dikasih, tapi ngomongnya begitu. Kamu itu beruntung, Hun, nggak harus seperti Mami.”
“Hm! Dengar itu, Yas.” Bira akhirnya membuka mata setelah tertidur entah berapa lama. Ia berbaring miring, dan menatap putrinya yang tampak kelelahan. Dalam keadaan seperti ini, Bira kembali mengingat ketika istrinya melahirkan dahulu kala. “Jangan banyak ngeluh, dan banyak bersyukur, karena nggak semua perempuan bisa hamil seperti kamu.”
Yasmen merengut. Menoleh pada Bira dengan tatapan kesal. “Papi nggak usah ceramah. Entar aku nggak mau ajak anakku main ke rumah opanya kalau Papi masih ceramah terus.”